<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Business Plan &#187; wawancara</title>
	<atom:link href="http://arfahhusaifah.com/tag/wawancara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arfahhusaifah.com</link>
	<description>Arfahhusaifah.com</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 11:07:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Wawancara Bersama Founder WordPress</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/wawancara-bersama-founder-wordpress/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/wawancara-bersama-founder-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 17:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial Wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[amp]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[embed src]]></category>
		<category><![CDATA[flashvars]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[height]]></category>
		<category><![CDATA[Hong Kong]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Lihat]]></category>
		<category><![CDATA[Matt]]></category>
		<category><![CDATA[Matt Muddenweg]]></category>
		<category><![CDATA[Matt Mullenweg]]></category>
		<category><![CDATA[minat]]></category>
		<category><![CDATA[mulus]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[sini]]></category>
		<category><![CDATA[software open source]]></category>
		<category><![CDATA[src]]></category>
		<category><![CDATA[type application]]></category>
		<category><![CDATA[videonya]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[width]]></category>
		<category><![CDATA[Wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[x shockwave flash]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/2010/02/24/wawancara-bersama-founder-wordpress/</guid>
		<description><![CDATA[Lihat videonya di sini: 1. Matt Mullenweg: WordPress Now. 2. Inspirageek Interview with Matt Mullenweg. 3. Matt Mullenweg Interview: WordCamp Hong Kong 2009 Berikut adalah kutipan wawancara Matt Mullenweg di TV-One ketika berkunjung ke Indonesia Januari 2009. Kisah Singkat Kesuksesan Hal pertama yang dibahas adalah latar belakang pendidikan Matt Muddenweg. Ia bukan lulusan programming ataupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lihat videonya di sini:</p>
<p>1. <a href="http://wordpress.tv/2009/10/29/matt-mullenweg-wordpress-now/" target="_blank">Matt Mullenweg: WordPress Now.</a></p>
<p>2. <a href="http://wordpress.tv/2009/12/18/inspirageek-interview-with-matt-mullenweg/" target="_blank">Inspirageek Interview with Matt Mullenweg.</a></p>
<p>3. <a href="http://wordpress.tv/2009/04/05/matt-mullenweg-interview-hk09/" target="_blank">Matt Mullenweg Interview: WordCamp Hong Kong 2009</a></p>
<p>Berikut adalah kutipan wawancara Matt Mullenweg di TV-One ketika berkunjung ke Indonesia Januari 2009.</p>
<p><strong>Kisah Singkat Kesuksesan</strong></p>
<p>Hal pertama yang dibahas adalah<strong> latar belakang pendidikan</strong> Matt Muddenweg. Ia bukan lulusan programming ataupun ilmu komputer. Di masa SMA, ia terjun dalam bidang seni. Sedangkan kuliahnya [<em>tidak selesai</em>] di bidang ilmu politik. Walaupun demikian, motivasi dan minat yang ia berikan pada blog membawa dirinya sukses dalam dunia software dan teknologi informasi.<span id="more-355"></span></p>
<p>Topik lain yang dibahas adalah <strong>lika-liku perjalanan sukses Matt</strong>. Jalan keberhasilan Matt tidaklah pendek dan mulus. Keberhasilan ia raih dimulai dari hobbinya dalam fotografi serta mempublikasi fotonya di blog/website. Jadi, langkah awal kesuksesan dimulai dari blog. [<em>selamat bagi Anda yang telah mulai blog dari ide dan hobbi pribadi, bukan copy-paste </em><em> </em>].</p>
<p>Karena blog yang ia gunakan saat itu (b2cafelog) tidak user friendly, akhirnya ia bertekad mengubahnya. <em>[selamat bagi Anda yang merasa WordPress tidak nyaman, dan Anda berkeinginan mengubahnya]</em><br />
Tentu, pada awalnya dia tidak menyangka bahwa usahanya yang kreatif dapat membawa dirinya berhasil seperti saat ini. Namun saat ini, karyanya yakni WordPress telah memikat 20.000 pendatang baru (blogger) tiap hari.</p>
<p><strong>Korelasi Ilmu Politik, Seni dan Blog-Software</strong></p>
<p>Ketika ditanya apakah ada korelasi/manfaat yang diperoleh dari pendidikan politik dan seni [saxophone] terhadap pengembangan software WordPress-nya, Matt menjawab secara tegas yah.</p>
<p>“Ada dua hal yang berpengaruh. Pertama, ilmu politik berkontribusi besar pada paradigma software open-source (gratis)…Kebanyakan orang yang bekerja dibidang software adalah volunteer (relawan). Mereka bekerja karena mereka menyukai pekerjaannya, bukan karena ditekan atau sejenisnya. Jadi, dalam hal ini prinsip politik adalah tetap membuat mereka senang/bahagia serta menjaga komunitas dimana mereka terlibat langsung. Dan kita hanya perlu memfasilitasinya.<br />
Dan saya pikir [<em>hal kedua seni]</em>, software yang bagus memiliki struktur dan desain yang baik.”</p>
<p><strong>Dilematis : WordPress digunakan untuk Kejahatan</strong></p>
<p>Bagaimana tanggapan Anda terhadap beberapa orang [<em>oknum</em>] yang menggunakan fasilitas WordPress untuk tindakan merugikan orang lain [<em>ancaman, teroris, penghasutan</em>]?<br />
Jawaban Matt:</p>
<p>“Ini adalah masalah rumit. Kami menyediakan fasilitas tersebut [<em>WordPress secara gratis</em>] dengan harapan semua orang dapat menggunakannya untuk hal-hal berguna dan positif, dan tentu kita tidak mengharapkan mereka yang menggunakannya untuk hal-hal buruk.”</p>
<p><strong>Harapan Matt pada Program Wordcamp Indonesia 2009</strong></p>
<p>Matt akan hadir pada Wordcamp Indonesia 2009 pada 17-18 April 2009, dan tujuannya untuk adalah memperkenal WordPress sekaligus mengedukasi kebebasan berekspresi di dunia maya yang benar.</p>
<p>“Ada satu hal yang menjadi alasan utama saya datang ke Indonesia yakni WordPress memilik daya tarik besar di Indonesia. Melalui WordPress, diharapkan orang mulai lebih tertarik dengan budaya blog, serta tertarik dengan software open-source. Alasan lain kehadiran saya adalah <strong>untuk belajar lebih banyak di Indonesia</strong>. Dan hal yang ingin saya sampaikan pada Wordcamp adalah mengenai landasan kebebasan (freedom). Kita tahu bahwa, WordPress adalah software gratis (free). Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk menikmati fasilitas ini. Disini saya tekankan bahwa dengan software gratis, Anda bebas bereksperesi tanpa harus membayarnya.”</p>
<p>Dengan kata lain, melalui blog dan komunitas yang beragam warna, kepentingan, pandangan dan perbedaan, ada hal yang fundamental yakni <strong>kebebasan yang memberi manfaat bagi orang lain</strong> [<em>prinsip politik Matt</em>]. Melalui semangat kebebasan ini, WordPress diharapkan bisa memberi inspirasi dan setiap orang dapat mengungkapkan apa saja yang ada dalam pikirannya.</p>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d355').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d355" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Fwawancara-bersama-founder-wordpress%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d355').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d355').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/wawancara-bersama-founder-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Hasil Wawancara</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 22:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis Online]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kata William Shakespeare]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[narasumber]]></category>
		<category><![CDATA[panggung]]></category>
		<category><![CDATA[rumusan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan’ kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan’ kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian dalam proses penggalian bahan tulisan. Kita harus bisa mengeksplorasi seluruh kemampuan kita untuk menggali ide-ide yang tertanam dalam benak narasumber kita. Apalagi, jika narasumber yang kita wawancara termasuk tokoh penting dan udah ngetop di kalangan banyak orang.</p>
<p>Nah, ada beberapa persiapan awal sebelum wawancara yang bisa kamu lakukan. Pertama, menentukan topik. Jelas dong, jangan sampe kamu datang ke narasumber dengan ‘kepala kosong’. Ini bakalan menjadi blunder buat kamu yang nekat datang tanpa menentukan topik wawancara. Bukan hanya narasumber yang bakalan bingung, tapi kamu juga akhirya cuma bengong. Sama halnya dengan kalo kamu naik panggung untuk ngisi presentasi, tapi dengan ‘kepala kosong’. Hasilnya, mudah ditebak, kamu bingung! Tul nggak? Kata William Shakespeare, “Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan,” Walah?<span id="more-234"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, langkah kedua dalam persiapan melakukan wawancara adalah menyiapkan ‘pertanyaan jitu’, ada sebagian wartawan menyebutnya ‘pertanyaan peluru’ (<em>loaded question</em>). Ini akan menentukan tingkat kemampuan si pewawancara. Bahkan sangat boleh jadi akan menghasilkan isi wawancara yang berbobot. Apalagi tokoh yang kita wawancarai memang terkenal dan berpengaruh. Tapi harap diingat dong, bahwa jangan sampe kita terpaku kepada rumusan pertanyaan yang udah kita buat. Itu bisa menjebak kita nantinya dalam kekakuan. Tapi, pastikan bahwa kamu dapat mengembangkan pertanyaan lain saat wawancara terjadi. Jadi bisa bersumber dari pertanyaan narasumber.</p>
<p>Nah, sekarang kita belajar menuliskan hasil wawancara. Untuk mendapatkan tulisan berupa wawancara yang baik, tentunya kita kudu mendapatkan sedetil-detilnya segala macam yang ‘melekat’ pada narasumber. Setelah melakukan wawancara, biasanya ada kesempatan untuk rileks. Nah, di situlah kamu bisa tanya ‘ini-itu’ dari narasumber; misalnya warna favoritnya, olahraga kesukaannya, makanan kesukaannya, tokoh idolanya, pendidikannya, keluarganya, aktivitasnya, pengalaman-pengalaman unik yang dialaminya, dsb. Dengan catatan, jika wawancara ini bersifat ‘eksklusif’, yakni cuma kamu, atau media tempat kamu kerja aja yang melakukan wawancara dengan narasumber tersebut. Kalo wawancara sambil lalu, maka untuk mendapatkan detil dari yang ‘melekat’ pada dirinya, kamu bisa baca via sumber lain yang menceritakan narasumber tersebut. Jadi tenang aja, apalagi jika media massa tempat kamu kerja punya dokumentasi lengkap, maka akan mudah untuk berkreasi dalam menulis hasil wawancaramu.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita juga bisa ‘memodifikasi’ tulisan wawancara. Tujuannya supaya pembaca enak untuk menyimaknya. Misalnya begini. Dalam kenyataan saat wawancara, kita mengajukan pertanyaan yang adakalanya panjang banget kan? Biasanya itu dilakukan untuk memperjelas maksud. Nah, dalam tulisan hasil wawancara, tidak perlu ditulis semua pertanyaan kita sesuai rekaman di kaset. Kamu bisa memotongnya dengan tanpa mengurangi maksud dari pertanyaan. Contoh: <em>“Bapak bisa jelaskan masalah yang menimpa anak muda sekarang, misalnya dalam masalah pergaulan?”</em> Ini yang kita ucapkan kepada narasumber. Tapi, dalam tulisan hasil wawancara, kita persingkat saja jadi begini, <em>“Bisa dijelaskan pergaulan remaja sekarang?”</em> Lebih hemat kan?</p>
<p>Bisa juga ‘modifikasi’ itu kita lakukan dalam ‘membagi’ jawaban narasumber ke dalam beberapa bagian ‘pertanyaan buatan’ kita. Ini terjadi jika jawaban narasumber kelewat panjang. Nah, supaya pembaca nggak jenuh dengan panjangnya jawaban, maka kita buatkan ‘pertanyaan pembantu’ untuk membagi jawaban tersebut. Tentu dengan tidak menghilangkan maksud dari jawaban narasumber dong. Sekali lagi, ini sekadar mengatasi kejenuhan pembaca.</p>
<p>Terus, yang bisa kita lakukan dalam menulis hasil wawancara adalah mengkreasikan data-data. Supaya tambah ciamik, maka dalam tulisan itu, kita selipkan profil narasumber. Misalnya, <em>“Bapak sembilan anak yang rajin membaca buku ini, terlihat masih segar di usia tuanya. Setiap hari, ia berkeliling komplek perumahan untuk sekadar berolaharga jalan kaki kesukaannya. Suami dari ….. (sebutkan nama istrinya) kelahiran Jakarta 50 tahun silam itu kini aktif sebagai pengurus Partai …. (sebutkan nama partai tempat ia bergabung dan jabatannya)”</em></p>
<p>Kamu bisa buat tulisan tambahan seperti itu sekitar 3 buah. Boleh juga dipadu dengan biodata singkatnya yang ditulis dalam sebuah kertas (minta saja bagian tataletak untuk men-scan kertas tersebut untuk diselipkan dalam lay-out rubrik wawancara tersebut). Pokoknya, buatlah semenarik mungkin hasil kreasimu. Tiap wartawan biasanya punya kreasi tersendiri. Selama itu memang menarik, kenapa tidak? Tul nggak?</p>
<p>Tulisan hasil wawancara akan lebih menarik jika kamu pandai mengolah kata, gabungkan dengan tip yang sudah saya sampaikan di awal; membuat judul, hemat kata, dan tentunya kaya dengan kosakata. Ditanggung antimanyun deh.</p>
<p>Oke, sekarang mulailah menyiapkan segalanya untuk wawancara. Sudah siap? Yup, sebelum lupa, yang penting lagi sebelum melakukan wawancara adalah mental. Selain kudu percaya diri, kamu juga ‘wajib’ punya mental juara. Sebab, adakalanya narasumber itu ‘ngerjain’ kita. Saya dan seorang teman pernah melakukan wawancara dengan Pak Amien Rais (waktu itu masih Ketua PP Muhammadiyah). Wuih, sampe empat kali bolak-balik Bogor-Jakarta. Jadi, nggak mesti sekali jadi. Maklumlah tokoh penting. Akhirnya dapet juga, meski dengan susah payah. Kejar terus sampe dapet! Ayo…kamu pasti bisa!<em>[Sumber: Buku "Menjadi Penulis Hebat"]</em><br />
<h4>Possibly related posts: (automatically generated)</h4>
<ul>
<li>Related posts on <b>datang ke</b></li>
<li><a href="http://adithiarangga.wordpress.com/2010/02/18/my-review-is-sucks-the-wolfman/">My Review is Sucks: The Wolfman « raditherapy</a></li>
<li><a href="http://ffindo.wordpress.com/2010/02/17/help-me/">Help Me~~ « F(4)</a></li>
<li><a href="http://blog.beswandjarum.com/puspitaningtyasaisyah/2010/02/18/twinning-class-07-goes-to-jogja-with-little-stars/">Puspitaning Tyas&#39;blog » Twinning Class &#39;07 goes to JOGJA with <b>&#8230;</b></a></li>
</ul>
<ul>
<li>Related posts on <b>Jakarta</b></li>
<li><a href="http://thejakartaherald.com/did-family-guy-go-too-far-with-trig-palin-downs-joke/">Did Family Guy Go Too Far With Trig Palin Downs Joke? | The <b>&#8230;</b></a></li>
<li><a href="http://aisbird.com/percuma-untuk-anda/?p=20215">Malaysia Canes 3 Women for Extramarital Sex – The <b>Jakarta</b> Globe <b>&#8230;</b></a></li>
</ul>
<ul>
<li>Related posts on <b>Kata William Shakespeare</b></li>
<li><a href="http://arfahhusaifah.com/2010/02/06/menulis-hasil-wawancara-2/">Menulis Hasil Wawancara | Inspirasi Kehidupan dari Aceh</a></li>
<li><a href="http://www.tvone.co.id/blog/ratna.dumila/2009/08/23/%E2%80%9Cwhat-is-in-a-name%E2%80%9D/">“what is in a name..??”..</a></li>
<li><a href="http://iswekon.wordpress.com/2009/02/05/menjadi-raksasa-makmur-sejahtera/">menjadi raksasa makmur sejahtera</a></li>
</ul>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d234').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d234" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Fmenulis-hasil-wawancara%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d234').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d234').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Hasil Wawancara</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara-2/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 22:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis Online]]></category>
		<category><![CDATA[datang ke]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kata William Shakespeare]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[narasumber]]></category>
		<category><![CDATA[panggung]]></category>
		<category><![CDATA[rumusan]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan’ kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan’ kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian dalam proses penggalian bahan tulisan. Kita harus bisa mengeksplorasi seluruh kemampuan kita untuk menggali ide-ide yang tertanam dalam benak narasumber kita. Apalagi, jika narasumber yang kita wawancara termasuk tokoh penting dan udah ngetop di kalangan banyak orang.</p>
<p>Nah, ada beberapa persiapan awal sebelum wawancara yang bisa kamu lakukan. Pertama, menentukan topik. Jelas dong, jangan sampe kamu datang ke narasumber dengan ‘kepala kosong’. Ini bakalan menjadi blunder buat kamu yang nekat datang tanpa menentukan topik wawancara. Bukan hanya narasumber yang bakalan bingung, tapi kamu juga akhirya cuma bengong. Sama halnya dengan kalo kamu naik panggung untuk ngisi presentasi, tapi dengan ‘kepala kosong’. Hasilnya, mudah ditebak, kamu bingung! Tul nggak? Kata William Shakespeare, “Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan,” Walah?<span id="more-233"></span></p>
<p>Sobat muda muslim, langkah kedua dalam persiapan melakukan wawancara adalah menyiapkan ‘pertanyaan jitu’, ada sebagian wartawan menyebutnya ‘pertanyaan peluru’ (<em>loaded question</em>). Ini akan menentukan tingkat kemampuan si pewawancara. Bahkan sangat boleh jadi akan menghasilkan isi wawancara yang berbobot. Apalagi tokoh yang kita wawancarai memang terkenal dan berpengaruh. Tapi harap diingat dong, bahwa jangan sampe kita terpaku kepada rumusan pertanyaan yang udah kita buat. Itu bisa menjebak kita nantinya dalam kekakuan. Tapi, pastikan bahwa kamu dapat mengembangkan pertanyaan lain saat wawancara terjadi. Jadi bisa bersumber dari pertanyaan narasumber.</p>
<p>Nah, sekarang kita belajar menuliskan hasil wawancara. Untuk mendapatkan tulisan berupa wawancara yang baik, tentunya kita kudu mendapatkan sedetil-detilnya segala macam yang ‘melekat’ pada narasumber. Setelah melakukan wawancara, biasanya ada kesempatan untuk rileks. Nah, di situlah kamu bisa tanya ‘ini-itu’ dari narasumber; misalnya warna favoritnya, olahraga kesukaannya, makanan kesukaannya, tokoh idolanya, pendidikannya, keluarganya, aktivitasnya, pengalaman-pengalaman unik yang dialaminya, dsb. Dengan catatan, jika wawancara ini bersifat ‘eksklusif’, yakni cuma kamu, atau media tempat kamu kerja aja yang melakukan wawancara dengan narasumber tersebut. Kalo wawancara sambil lalu, maka untuk mendapatkan detil dari yang ‘melekat’ pada dirinya, kamu bisa baca via sumber lain yang menceritakan narasumber tersebut. Jadi tenang aja, apalagi jika media massa tempat kamu kerja punya dokumentasi lengkap, maka akan mudah untuk berkreasi dalam menulis hasil wawancaramu.</p>
<p>Sobat muda muslim, kita juga bisa ‘memodifikasi’ tulisan wawancara. Tujuannya supaya pembaca enak untuk menyimaknya. Misalnya begini. Dalam kenyataan saat wawancara, kita mengajukan pertanyaan yang adakalanya panjang banget kan? Biasanya itu dilakukan untuk memperjelas maksud. Nah, dalam tulisan hasil wawancara, tidak perlu ditulis semua pertanyaan kita sesuai rekaman di kaset. Kamu bisa memotongnya dengan tanpa mengurangi maksud dari pertanyaan. Contoh: <em>“Bapak bisa jelaskan masalah yang menimpa anak muda sekarang, misalnya dalam masalah pergaulan?”</em> Ini yang kita ucapkan kepada narasumber. Tapi, dalam tulisan hasil wawancara, kita persingkat saja jadi begini, <em>“Bisa dijelaskan pergaulan remaja sekarang?”</em> Lebih hemat kan?</p>
<p>Bisa juga ‘modifikasi’ itu kita lakukan dalam ‘membagi’ jawaban narasumber ke dalam beberapa bagian ‘pertanyaan buatan’ kita. Ini terjadi jika jawaban narasumber kelewat panjang. Nah, supaya pembaca nggak jenuh dengan panjangnya jawaban, maka kita buatkan ‘pertanyaan pembantu’ untuk membagi jawaban tersebut. Tentu dengan tidak menghilangkan maksud dari jawaban narasumber dong. Sekali lagi, ini sekadar mengatasi kejenuhan pembaca.</p>
<p>Terus, yang bisa kita lakukan dalam menulis hasil wawancara adalah mengkreasikan data-data. Supaya tambah ciamik, maka dalam tulisan itu, kita selipkan profil narasumber. Misalnya, <em>“Bapak sembilan anak yang rajin membaca buku ini, terlihat masih segar di usia tuanya. Setiap hari, ia berkeliling komplek perumahan untuk sekadar berolaharga jalan kaki kesukaannya. Suami dari ….. (sebutkan nama istrinya) kelahiran Jakarta 50 tahun silam itu kini aktif sebagai pengurus Partai …. (sebutkan nama partai tempat ia bergabung dan jabatannya)”</em></p>
<p>Kamu bisa buat tulisan tambahan seperti itu sekitar 3 buah. Boleh juga dipadu dengan biodata singkatnya yang ditulis dalam sebuah kertas (minta saja bagian tataletak untuk men-scan kertas tersebut untuk diselipkan dalam lay-out rubrik wawancara tersebut). Pokoknya, buatlah semenarik mungkin hasil kreasimu. Tiap wartawan biasanya punya kreasi tersendiri. Selama itu memang menarik, kenapa tidak? Tul nggak?</p>
<p>Tulisan hasil wawancara akan lebih menarik jika kamu pandai mengolah kata, gabungkan dengan tip yang sudah saya sampaikan di awal; membuat judul, hemat kata, dan tentunya kaya dengan kosakata. Ditanggung antimanyun deh.</p>
<p>Oke, sekarang mulailah menyiapkan segalanya untuk wawancara. Sudah siap? Yup, sebelum lupa, yang penting lagi sebelum melakukan wawancara adalah mental. Selain kudu percaya diri, kamu juga ‘wajib’ punya mental juara. Sebab, adakalanya narasumber itu ‘ngerjain’ kita. Saya dan seorang teman pernah melakukan wawancara dengan Pak Amien Rais (waktu itu masih Ketua PP Muhammadiyah). Wuih, sampe empat kali bolak-balik Bogor-Jakarta. Jadi, nggak mesti sekali jadi. Maklumlah tokoh penting. Akhirnya dapet juga, meski dengan susah payah. Kejar terus sampe dapet! Ayo…kamu pasti bisa!<em>[Sumber: Buku "Menjadi Penulis Hebat"]</em></p>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d233').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d233" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Fmenulis-hasil-wawancara-2%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d233').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d233').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/menulis-hasil-wawancara-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertahan dari Tsunami: Kisah-kisah Harapan.</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2009/12/bertahan-dari-tsunami-kisah-kisah-harapan/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2009/12/bertahan-dari-tsunami-kisah-kisah-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 17:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[AL Qur]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[bulan sabit merah]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[foto-foto]]></category>
		<category><![CDATA[grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah-kisah]]></category>
		<category><![CDATA[London]]></category>
		<category><![CDATA[Monique Villa]]></category>
		<category><![CDATA[okezone]]></category>
		<category><![CDATA[Palang Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Reuters]]></category>
		<category><![CDATA[reuters foundation]]></category>
		<category><![CDATA[Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[tsunami]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>
		<category><![CDATA[Wong]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Bertahan dari Tsunami: Kisah-kisah Harapan adalah judul film tsunami Samudera Hindia, yang akan diluncurkan oleh Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Thomson Reuters Foundation dalam bentuk film dokumenter berbasis web. Peluncuran film ini menandai peringatan lima tahun Tsunami Samudera Hindia yang dikenal sebagai bencana alam terburuk sepanjang ingatan umat manusia. Demikian isi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://arfahhusaifah.com/2009/12/17/bertahan-dari-tsunami-kisah-kisah-harapan/" target="_blank"><em>Bertahan dari Tsunami: Kisah-kisah Harapan</em></a> adalah judul film tsunami Samudera Hindia, yang akan diluncurkan oleh Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Thomson Reuters Foundation dalam bentuk film dokumenter berbasis web.</p>
<p>Peluncuran film ini menandai peringatan lima tahun Tsunami Samudera Hindia yang dikenal sebagai bencana alam terburuk sepanjang ingatan umat manusia. Demikian isi rilis yang diterima okezone, Rabu (16/12/2009).</p>
<p>Film ini mengungkap kekuatan semangat manusia dalam menghadapi bencana dahsyat. Di dalamnya terekam kisah-kisah tentang semangat, harapan, dan kehormatan yang digambarkan lewat foto-foto terpilih milik Reuters, cuplikan video tsunami, wawancara, dan grafis interaktif.</p>
<p>&#8220;Film dapat disaksikan di <a href="http://tsunami.trust.org" target="_blank">http://tsunami.trust.org</a> atau <a href="http://tsunami.trust.org/bahasa" target="_blank">http://tsunami.trust.org/bahasa</a>. Para penonton dapat menikmati film ini dalam berbagai bahasa. Seperti Prancis, Spanyol, Arab, Indonesia, Hindi, Tamil, Sinhala, Thailand, Jepang, dan Mandarin,&#8221; ujar Monique Villa, Direktur Thomson Reuters Foundation.</p>
<p>Yasemin Aysan dari kantor Sekretaris Jenderal IFRC menyatakan tsunami  mengakibatkan kerusakan dahsyat dan tak terbayangkan. Tapi bencana ini juga menciptakan kedermawanan mencengangkan orang-orang biasa dari berbagai penjuru dunia.</p>
<p>&#8220;Selama lima tahun kami membantu masyarakat untuk pulih kembali dan kami ingin membuat sebuah kesaksian jujur yang memungkinkan orang-orang biasa ini, yang terkena dampak tsunami, bercerita tentang kisah-kisah mereka yang luar biasa,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Peluncuran film dilakukan bersamaan dengan pengenalan layanan baru Thomson Reuters Foundation yaitu Layanan Informasi Darurat atau EIS (Emergency Information Service). Layanan pionir ini dikembangkan untuk merespons bencana-bencana alam besar di seluruh dunia, dengan dukungan utama dari Palang Merah.</p>
<p>Thomson Reuters Foundation akan mengirimkan jurnalisnya ke lokasi bencana di mana mereka akan mengumpulkan, menyusun, dan menyebarkan informasi penting yang diperlukan masyarakat di wilayah terkena bencana untuk mengisi kekosongan <strong>informasi</strong> sebagaimana kerap terjadi dalam situasi darurat bencana.</p>
<p>Jangan sampai ketinggalan ya! Dari judulnya aja, <a href="http://arfahhusaifah.com" target="_blank">Bertahan dari Tsunami: Kisah-Kisah Harapan</a> sudah membuat kita penasaran.</p>
<p>Syeudara, <a href="http://arfahhusaifah.com/" target="_blank">Arfah Husaifah</a><br />
<h4>Possibly related posts: (automatically generated)</h4>
<ul>
<li style="list-style: none;">Related posts on <b>bencana</b></li>
<li><a href="http://wahyuprasetya.net/?p=247">24 Jam dalam kehidupan seorang muslim menurut ajaran AL Qur&#39;an (1 <b>&#8230;</b></a></li>
<li><a href="http://burgerdua.wordpress.com/2010/02/20/abstrak-dan-susunan-2/">“abstrak dan susunan 2? « Burgerdua&#39;s Blog</a></li>
<li><a href="http://wong168.wordpress.com/2010/02/21/jawaban-nasa-tentang-kiamat-2012/">Jawaban NASA Tentang Kiamat 2012 « Wong168&#39;s Blog</a></li>
</ul>
<ul>
<li style="list-style: none;">Related posts on <b>dokumenter</b></li>
<li><a href="http://samstat.wordpress.com/2010/02/20/ny-datainnsamling/">Ny datainnsamling « Samstat</a></li>
<li><a href="http://arfian-rama.web.ugm.ac.id/flashback-membuka-catatan-agenda-penting-2/">-arfian-rama- » Flashback: Membuka Catatan Agenda Penting</a></li>
<li><a href="http://wizofmoz.dk/2010/02/19/hva-er-det-nu-liiige-du-skal-i-afrika/">Hva er det nu liiige du skal i Afrika? | The Wizards of Moz</a></li>
</ul>
<ul>
<li style="list-style: none;">Related posts on <b>film</b></li>
<li><a href="http://www.anatomyofaclassic.com/?p=414">Anatomy Of A Classic – Classic <b>Film</b> in the “Fi-yah”</a></li>
<li><a href="http://blog.seekinfo.ru/london-film-festival-a-feast-of-films/">London <b>film</b> festival: a feast of <b>films</b> | Tuning world</a></li>
<li><a href="http://www.killerfilm.com/articles/read/legal-tangles-stall-new-mortal-kombat-film-26234">Legal tangles stall new Mortal Kombat <b>film</b> | KillerFilm</a></li>
</ul>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d100').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d100" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2009%2F12%2Fbertahan-dari-tsunami-kisah-kisah-harapan%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d100').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d100').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2009/12/bertahan-dari-tsunami-kisah-kisah-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
