<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Business Plan &#187; jurnalistik</title>
	<atom:link href="http://arfahhusaifah.com/tag/jurnalistik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arfahhusaifah.com</link>
	<description>Arfahhusaifah.com</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 22:22:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Biasakan Membuat Lead ‘Menggoda’</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda%e2%80%99/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 22:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis Online]]></category>
		<category><![CDATA[Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Samoud]]></category>
		<category><![CDATA[bahas]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Irak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Kandahar]]></category>
		<category><![CDATA[merangsang]]></category>
		<category><![CDATA[pernyataan]]></category>
		<category><![CDATA[presiden megawati]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Kalo leadnya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Kalo leadnya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Yup, boleh dibilang selain judul, lead adalah jajanan yang ‘wajib’ memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya.</p>
<p>Dalam dunia jurnalistik, kita bakal menemukan beberapa jenis lead. Berdasarkan pengalaman saya dalam menulis dan mengamati perkembangan media, ada empat jenis lead: lead berita langsung, lead pernyataan, lead peristiwa, dan lead untuk <em>feature</em> (berita ringan/berita kisah). Untuk <em>feature</em> insya Allah kita bahas secara khusus dalam tip berikutnya.<span id="more-239"></span></p>
<p>Nah, pastikan ketika membuat tulisan, kita bikin lead yang ‘menggoda’ dari setiap jenis lead tersebut. Semua jenis lead yang kita gunakan harus bisa memikat pembaca untuk memilih meneruskan bacaannya. Di sinilah keterampilan kita membuat lead diuji benar.</p>
<p>Ada beberapa patokan yang bisa kamu pegang dalam menuliskan jenis-jenis lead tersebut. Untuk lead “berita langsung”, rambu-rambunya sebagai berikut: <span style="text-decoration: underline">Pertama</span>, kandungan informasi dalam teras berita untuk format berita langsung adalah informasi paling penting yang merupakan inti berita yang akan dijelaskan rinci dan lengkap dalam tubuh berita, di dalamnya terkandung unsur <em>what</em> (apa) dan <em>who </em>(siapa). Contohnya: “Presiden Megawati Soekarnoputri menegaskan, Indonesia menolak perang untuk alasan apa pun.” (<em>Kompas, 25 Februari 2003-Judul berita: Presiden Megawati Soekarno Putri: RI Tolak Perang</em>).</p>
<p><span style="text-decoration: underline">Kedua</span>, keterangan waktu (<em>when</em>) akan lebih mempunyai nilai bila dimasukkan dalam teras berita berformat berita langsung, yang didahului dengan unsur <em>who</em> dan <em>what</em>-nya (ini berlaku untuk berita yang sangat baru). Contohnya: “Irak makin bersahabat dengan PBB. Kemarin, sebuah sumber Irak, seperti dikutip AFP…” (<em>Koran Tempo, 1 Maret 2003-Judul berita: Irak Janji Musnahkan Al-Samoud Hari Ini</em>)</p>
<p><span style="text-decoration: underline">Ketiga</span>, teras berita harus ringkas, jelas, lugas. Ringkas, maksudnya memperhatikan ekonomi kata. Jelas, artinya tidak menggunakan kata yang bermakna ganda dan kalimat yang rancu. Lugas artinya langsung pada pokok persoalannya.</p>
<p>Untuk teras “berita pernyataan” juga memiliki rambu-rambu dalam pembuatan lead, di antaranya: <span style="text-decoration: underline">Pertama</span>, teras berita pernyataan, harus menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksud oleh pernyataan nara sumber yang terkandung dalam judul berita. Misalnya: “Pria ini mengatakan padaku bahwa yang ia inginkan adalah supaya aku menyatakan yang bertanggung jawab atas berbagai pemboman di Palestina adalah al-Qaida,” ujar seorang pria bertopeng yang bernama Ibrahim di Gaza, Palestina (<em>khilafah.com, 13 Desember 2002, Mossad Rekayasa Sel al-Qaida di Gaza</em>-terjemahan).</p>
<p><span style="text-decoration: underline">Kedua</span>, jika pernyataan itu lebih penting dan menarik ketimbang siapa yang mengucapkan pernyataan, subyek yang membuat pernyataan tidak perlu dicantumkan dalam teras berita. <span style="text-decoration: underline">Ketiga</span>, jika pernyataan dilemparkan oleh subyek yang tenar, sehingga bobot pernyataan menjadi penting dan menarik, identitas subyek yang memberikan pernyataan perlu dicantumkan dalam teras berita. <span style="text-decoration: underline">Keempat</span>, jika pernyataan seseorang hendak ditampilkan lewat kutipan langsung, yang ditampilkan dalam teras berita adalah kalimat narasumber yang dipandang paling ‘menggelitik’ pembaca. Pengertian ‘menggelitik’ disini, selain penting dan menarik, kalimat itu menggunakan kata atau ungkapan yang otentik, orisinil dan khas dari narasumber tersebut. <span style="text-decoration: underline">Kelima</span>, jika pernyataan berasal dari dua narasumber atau lebih, dicari paralelitas (persamaan) pernyataan setiap narasumber, agar dapat dijadikan teras berita. Jadi masalah yang tertuang di teras berita tunggal, sedang sudut pandang bisa sama atau berbeda.<br />
Terus, rambu-rambu yang bisa kamu pegang untuk lead “berita peristiwa” adalah sebagai berikut: <span style="text-decoration: underline">Pertama</span>, kudu memuat identitas subyek, apa tindakannya, terhadap apa atau siapa, dan akibat tindakan itu. Jika teras menjadi terlalu panjang, sebagian informasi itu (baik identitas orang, lokasi, benda) bisa ditempatkan di alinea berikutnya. Misalnya: “Perlakuan keji dan tidak manusiawi dipertontonkan pasukan Amerika terhadap 50 orang tawanan Taliban dan Mujahidin Arab setelah mereka dipindahkan dari Kandahar ke kapal induk AS yang berpangkalan di Guantanamo, Kuba. Mereka dirantai seluruh badannya, ditutup wajahnya dengan kain hitam serta disuntik dengan obat bius.” (<em>eramuslim.com, 16 Januari 2002-judul berita: AS Perlakukan Tawanan Guantanamo Secara Tidak Manusiawi</em>)</p>
<p><span style="text-decoration: underline">Kedua</span>, jika peristiwa itu adalah kejadian tak disengaja, teras berita memuat apa kejadian, di mana, kapan, apa atau siapa korban, serta akibat kejadian. Jika terlalu panjang sebagian informasi bisa disajikan dalam alinea selanjutnya. Misalnya, “Gempa bumi berkekuatan 6,8 pada skala Richter mengguncang kawasan terpencil di Provinsi Xinjiang, wilayah barat laut Cina, Senin (24/2). Bencana alam tersebut telah meruntuhkan ratusan gedung termasuk sejumlah sekolah.” (<em>Kompas, 25 Februari 2003-Judul berita: Gempa Guncang Cina, 258 Orang Tewas</em>).</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk tiga jenis lead berita ini, bisa juga diaplikasikan ke dalam tulisan jenis artikel (baik yang argumentatif, pemaparan dan yang lainnya). Cuma, formatnya nggak ‘lurus’ seperti berita. Modifikasi aja dengan kata-kata yang menarik dan lebih ‘berliku’. Tapi, harus dibedakan dengan jenis tulisan <em>feature</em>. Seperti sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, untuk lead yang berkaitan dengan <em>feature</em> insya Allah akan saya bahas dalam tip membuat <em>feature</em>. Tapi yang pasti, dari semua jenis lead itu, buatlah lead yang menggoda pembaca. Sebagai latihan awal, rajinlah membaca berita-berita atau tulisan di semua media. Lalu kembangkan inovasi dalam membuat lead-lead tersebut, dengan gaya bahasa kamu sendiri. Terus terang, latihan awal ketika saya ingin membuat lead juga begitu kok. Untuk memperkaya wawasan, boleh juga kamu koleksi buku-buku panduan lainnya dalam menulis. Oke deh, sekarang segera praktikkan saja ya? Selamat mencoba.. <em>[Sumber: Buku "Menjadi Penulis Hebat"]</em><br />
<h4>Possibly related posts: (automatically generated)</h4>
<ul>
<li>Related posts on <b>Ada</b></li>
<li><a href="http://www.injoaca.ro/la_treizeci/zambet-si-tate/">Zâmbet ?i ?â?e | În joac?</a></li>
<li><a href="http://www.uniqify.com/?p=99">Sebastian Kjersén med på <b>ADA</b> « UNIQIFY.com</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Related posts on <b>Al-Samoud</b></li>
<li><a href="http://allthingsct.wordpress.com/2009/12/07/my-new-article-on-my-abu-walid-al-masri-dialogue/">My new article on my Abu Walid al Masri dialogue « All Things <b>&#8230;</b></a></li>
</ul>
<ul>
<li>Related posts on <b>bahas</b></li>
<li><a href="http://yubabahas.com/?p=32010">???????????? ????? ??????? <b>&#8230;</b></a></li>
<li><a href="http://aspirasiputih.totalh.com/musik-indonesia-terjebak-dalam-trend-melayu">Musik Indonesia Terjebak Dalam Trend Melayu | Aspirasi Putih</a></li>
<li><a href="http://an9gita.ngeblogs.com/2010/02/19/tugas-sosiologi-dan-politik/">Tugas sosiologi dan politik | no comment</a></li>
</ul>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d239').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d239" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Fbiasakan-membuat-lead-%25e2%2580%2598menggoda%25e2%2580%2599%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d239').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d239').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/biasakan-membuat-lead-%e2%80%98menggoda%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Subyektif dan Obyektif</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 22:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis Online]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[mc luhan]]></category>
		<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[penulis buku]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/2010/02/09/tentang-subyektif-dan-obyektif/</guid>
		<description><![CDATA[Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mc.Luhan, penulis buku <em>Un</em><em>derstanding Media: The Extensive of Man</em>, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut <em>“gatekeeping”</em> lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (<em>blood and breast</em>) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalistik–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu. <span id="more-211"></span></p>
<p>Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya.</p>
<p>Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya.</p>
<p>Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan <em>zawiyatun khashah</em> alias sudah pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung?</p>
<p>Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, <em>masak</em> kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak?</p>
<p>Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaiokan aspek profesionalisme. Nggak lha yauw. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, tapi juga terhindar dari taklid buta terhadap informasi yang muncul. Jadi, kudu main cantik memang.</p>
<p>Tugas kita dalam menulis berita tentang Islam dan kaum muslimin, tentunya kita pastikan sumbernya dari kalangan kita sendiri. Boleh juga dari kalangan yang lain, asal benar-benar sudah terbukti kenyataannya. Sekali lagi, ini bukan menafikan peran media asing dalam memberikan informasi kepada kita, tapi kita sekadar bersikap waspada. Jangan sampe kita malah menjadi mesin penghancur bagi Islam itu sendiri.</p>
<p>Nah, inilah yang saya maksud mengapa kita harus pandai dalam menilai suatu informasi atau data. Salah-salah, malah bikin berabe di kemudian hari. Jadi, carilah data sesusai prosedur dalam pencarian data dan informasi sumber berita pada umumnya, tapi sudut pandang penilaian tetep dengan kerangka berpikir Islam. Objektif tapi sekaligus subjektif. Kita males tuh dikibulin terus dengan pemberitaan aneh bin ajaib media asing yang nggak suka dengan kebangkitan Islam.</p>
<p>Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, cing!</p>
<p>Contoh lain masalah ini adalah kejadian pada Perang Teluk II kemarin yang berlangsung tiga pekan, begitu banyak perang opini dilancarkan. Tujuannya jelas untuk melemahkan semangat musuhnya. Dan lucunya, Amrik nggak fair dalam masalah ini. Media-media yang dianggap bisa mengancam kepentingan pemerintahan Bush, harus diganyang. Lha, ini kan udah jelas merugikan kaum muslimin kan? Itu sebabnya, amat wajar jika kita menilai dan menulis sebuah berita atau tulisan dengan sudut pandang Islam. Bukan yang lain. <em>But</em>, tetep menjaga profesionalisme dalam mencari berita dengan mengedepankan keobyektifan terhadap masalah yang dibidik. Oke deh, paham kan?</p>
<p>Jadi, mulai sekarang menulislah dengan data selengkap-lengkapnya dan seakurat-akuratnya. Tapi ingat, hasil akhir dan arah berita or tulisan itu adalah dengan sudut pandang Islam. Kudu ada keberpihakan kepada Islam yang tinggi. Memang harusnya begitu kok. Oke deh, selamat mempraktikkan dan tetap semangat wahai para calon jurnalis muslim pembela Islam! <em>[Sumber: Buku "Menjadi Penulis Hebat"]</em></p>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d211').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d211" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Ftentang-subyektif-dan-obyektif%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d211').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d211').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Subyektif dan Obyektif</title>
		<link>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif-2/</link>
		<comments>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 22:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cutlem2009</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis Online]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[Di]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[mc luhan]]></category>
		<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[penulis buku]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arfahhusaifah.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mc.Luhan, penulis buku <em>Un</em><em>derstanding Media: The Extensive of Man</em>, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut <em>“gatekeeping”</em> lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (<em>blood and breast</em>) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalistik–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu. <span id="more-210"></span></p>
<p>Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya.</p>
<p>Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya.</p>
<p>Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan <em>zawiyatun khashah</em> alias sudah pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung?</p>
<p>Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, <em>masak</em> kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak?</p>
<p>Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaiokan aspek profesionalisme. Nggak lha yauw. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, tapi juga terhindar dari taklid buta terhadap informasi yang muncul. Jadi, kudu main cantik memang.</p>
<p>Tugas kita dalam menulis berita tentang Islam dan kaum muslimin, tentunya kita pastikan sumbernya dari kalangan kita sendiri. Boleh juga dari kalangan yang lain, asal benar-benar sudah terbukti kenyataannya. Sekali lagi, ini bukan menafikan peran media asing dalam memberikan informasi kepada kita, tapi kita sekadar bersikap waspada. Jangan sampe kita malah menjadi mesin penghancur bagi Islam itu sendiri.</p>
<p>Nah, inilah yang saya maksud mengapa kita harus pandai dalam menilai suatu informasi atau data. Salah-salah, malah bikin berabe di kemudian hari. Jadi, carilah data sesusai prosedur dalam pencarian data dan informasi sumber berita pada umumnya, tapi sudut pandang penilaian tetep dengan kerangka berpikir Islam. Objektif tapi sekaligus subjektif. Kita males tuh dikibulin terus dengan pemberitaan aneh bin ajaib media asing yang nggak suka dengan kebangkitan Islam.</p>
<p>Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika puluhan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, cing!</p>
<p>Contoh lain masalah ini adalah kejadian pada Perang Teluk II kemarin yang berlangsung tiga pekan, begitu banyak perang opini dilancarkan. Tujuannya jelas untuk melemahkan semangat musuhnya. Dan lucunya, Amrik nggak fair dalam masalah ini. Media-media yang dianggap bisa mengancam kepentingan pemerintahan Bush, harus diganyang. Lha, ini kan udah jelas merugikan kaum muslimin kan? Itu sebabnya, amat wajar jika kita menilai dan menulis sebuah berita atau tulisan dengan sudut pandang Islam. Bukan yang lain. <em>But</em>, tetep menjaga profesionalisme dalam mencari berita dengan mengedepankan keobyektifan terhadap masalah yang dibidik. Oke deh, paham kan?</p>
<p>Jadi, mulai sekarang menulislah dengan data selengkap-lengkapnya dan seakurat-akuratnya. Tapi ingat, hasil akhir dan arah berita or tulisan itu adalah dengan sudut pandang Islam. Kudu ada keberpihakan kepada Islam yang tinggi. Memang harusnya begitu kok. Oke deh, selamat mempraktikkan dan tetap semangat wahai para calon jurnalis muslim pembela Islam! <em>[Sumber: Buku "Menjadi Penulis Hebat"]</em></p>
<!-- Social Bookmarks BEGIN -->
<div class="social_bookmark">
<a title="Click me to see the sites." href="#" onclick="$$('div.d210').each( function(e) { e.visualEffect('slide_down',{duration:2.5}) }); return false;"><strong><em>Bookmark It</em></strong></a>
<br />
<div class="d210" style="overflow:hidden">
<br />
<a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'scrollbars=yes,menubar=no,height=600,width=750,resizable=yes,toolbar=no,location=no,status=no'); return false;" href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Farfahhusaifah.com%2F2010%2F02%2Ftentang-subyektif-dan-obyektif-2%2F" rel="nofollow" title="Add to&nbsp;Facebook"><img class="social_img" src="http://arfahhusaifah.com/wp-content/plugins/social-bookmarks/images/facebook.png" title="Add to&nbsp;Facebook" alt="Add to&nbsp;Facebook" /></a>
<br />
<br />
<a style="font-size:90%;text-align: right; " title="Click me to hide the sites." href="#" onclick="$$('div.d210').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); return false;">Hide Sites</a>
</div>
</div>
<!-- Social Bookmarks END -->
<script type="text/javascript">$$('div.d210').each( function(e) { e.visualEffect('slide_up',{duration:0.5}) }); </script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arfahhusaifah.com/2010/02/tentang-subyektif-dan-obyektif-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
